Meskipun sholat sudah menjadi kegiatan harian selama ini tetapi masih banyak persoalan yang belum dapat di pahami dengan benar oleh setiap pribadi muslim dan masih terjadi banyak perbedaan pendapat.
Allah Swt dalam surat 17 Al Isra ayat 110 nya menjelaskan bagaimana sholat yang benar harus dilakukan : ”…. janganlah keraskan bacaan sholatmu dan jangan pula memelankannya dan carilah jalan antara demikian itu diantara kedua cara itu”.
Itulah pengajaran Allah Swt kepada manusia bagaimana menjalankan sholat yang benar. Dalam As Sunnah juga dijelaskan mengenai keharusan mengikuti imam sebagaimana tercantum dalam Hadits berikut ini :
“ Dalam Ringkasan Shahih Bukhari terbitan Mizan halaman 173 – 175 Diriwayatkan dari Abu Hurairah : Rasulullah Saw pernah bersabda, “ Apabila mereka(imam) memimpin shalat dengan benar maka imam dan makmum akan menerima pahala tetapi jika imam membuat kesalahan dalam memimpin shalat maka makmum tetap menerima pahala shalat dan dosa dari kesalahan itu menjadi tanggungan imam”.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: ”Tidak takutkah mereka yang dibangkitkan dari sujudnya mendahului imam kelak kepalanya diubah Allah menjadi kepala seekor keledai? Atau rupanya diubah Allah menjadi rupa keledai?”
Banyak dari jamaah yang makmum, namun ketika imam membaca surah masih sibuk membaca Al Fatihah bahkan berpacu dengan suara imamnya sehingga sering mengganggu konsentrasi imam membaca Surah, padahal diperintahkan dalam shalat untuk juga konsentrasi mengikuti apa yang dibaca imam.
Pemahaman masyarakat mengenai ‘membaca’ selama ini banyak lebih diartikan harfiah padahal membaca selain dijaharkan dapat dilakukan dengan hati. Ingat ketika Malaikat Jibril meminta Rasulullah SAW untuk membaca. Jadi seharusnya ketika imam membaca Al Fatihah ikuti dengan membaca perlahan atau dalam hati. Dan ketika imam membaca…. Aaamiiin maka makmum harus bersamaan membacanya. Sesudah ber- Amin artinya kita sudah membaca Al Fatihah. Jadi tidak lagi mengulang membaca Al Fatihah tetapi segera dengarkan imam membaca surah.
Apabila imam membaca ayat Al Qur,an maka dengarkan sebagaimana diperintahkan Allah dalam surat Al A’raf surat 7 ayat 204 yang berbunyi : “Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”
Dari Ubadah bin Shamit ra, Rasulualah SAW bersabda:” Tidaklah sah sholat seseorang yang dalam shalatnya tidak membaca surah Al Fatihah”(HR Shahih Muslim dan Al Bukhari).
Dari Ibnu Abbas ra, ketika Jibril duduk disisi Rasulullah SAW, terdengarlah bunyi pintu terbuka di atasnya, lalu dia menengadahkan ke atas seraya berkata,” Ini bunyi sebuah pintu di langit yang hanya dibuka sekarang, belum pernah dibuka sama sekali sebelumnya.” Lalu turunlah seorang malaikat yang datang dari pintu itu. Kemudian Jibril berkata,” Inilah seorang malaikat turun ke bumi yang belum pernah turun sama sekali kecuali sekarang”. Kemudian malaikat itu mengucapkan salam seraya berkata, “ Bergembiralah dengan dua cahaya yang aku bawa, dan belum pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelum kamu, yaitu surah Al Fatihah dan ayat-ayat akhir surah Al Baqarah. Setiap huruf dari keduanya yang kamu baca, pasti kamu diberinya pahala serta doa yang dikandung didalamnya” (HR Muslim).
Dalam buku Index Alfabetis Hadits Bukhari Muslim di halaman 136 tertulis : “ Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda:” Apabila Imam shalat mengucapkan “Amin” maka ucapkanlah Amin”, karena barangsiapa ucapan Aminnya bersamaan dnegan ucapan Amin-nya malaikat maka diampuni dosanya yang telah lalu”. Ibnu Syihab berkata : Rasulullah SAW selalu mengucapkan Amin”.
Dalam Ringkasan Shahih Bukhari BAB 18 Mengucapkan ‘amin’ di halaman 187 pada hadits 448 dinyatakan : “ Diriwayatkan dari (Abu Hurairah) Ra,: Rasulullah SAW bersabda:” Ucapkan “amin”, ketika imam mengucapkannya dan jika ucapan ‘amin’, kalian bersamaan dengan ucapan amin para malaikat maka dosa-dosamu dimasa lalu akan dimaafkan”.
Pada BAB 19. Keutamaan mengucapkan Amin pada hadits 449. “ Diriwayatkan dari (Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW pernah bersabda:” Jika kalian mnegucapkan “amin”, dan para malaikat di langit mengucapkan ‘amin’ dan ucapan ‘amin’ kalian bersamaan dengan ucapan ‘amin’ para malaikat maka seluruh dosa-dosamu di masa lalu akan dimaafkan”.
Amin bermakna yaitu kesatu: ‘makmum bersaksi atas kebenaran al Fatihah”. Kedua: ‘makmum setuju dengan yang diucapkan Imam’. Ketiga : ’makmum berdoa agar Allah SWT mengabulkan harapan yang disampaikan dalam surat Al Fatihah’.
Dengan demikian ada 3 dalil ynag perlu menjadi perhatian yaitu dalil pertama, kalau dibaca surat dari Al Qur’an dengarkan tetapi kita bisa membaca dalam hati. Tidak ada larangan untuk itu. Juga tidak ada larangan membaca perlahan-lahan.
Dalil kedua, kalau Imam membaca surah dengarkan.
Dalil ketiga, kalau Imam baca Amin ikuti baca Amin.
Mengapa untuk bacaan Amin ada perintah tersendiri. Mungkin karena kata-kata “Amin” tidak ada dalam surat Al Fatihah di Al Qur’an maka perlu ditetapkan dalam hadits tersendiri.
Jadi kalau Imam sudah membaca surah seyogyanya makmum tidak memaksakan diri membaca Al Fatihah lagi karena jika demikian berarti melanggar dalil pertama dan kedua. Jika sudah ber-Amin maka makmum berarti sudah memperoleh dan membaca Al Fatihah.
Seringkali makmum membaca Al Fatihah dengan suara bariton sehingga terdengar tetangga kanan kiri dan muka serta belakangnya. Hal ini tentunya sangat mengganggu tetangga kanan kirinya. Jadi selain sudah melanggar dalil satu dan dua juga telah mengganggu tetangga makmum kanan kirinya. Semestinya sesudah selesai sholat dia tidak segera bangkit meninggalkan tempat sholat tetapi mengucapkan : “ Astagfirulloh hal adzim” minimal 3 kali lalu menjabat tangan (salaman dengan) makmum kanan kirinya, muka belakangnya untuk meminta maaf karena telah mengganggu selama menjalankan sholat.
Ternyata Allah SWT memberikan pengajaran shalat secara terperinci kepada manusia sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an dan juga dalam As Sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw tetapi tidak semua umat Islam mempelajari, memahamkannya dan mengamalkannya.
Allah menganjurkan untuk menggunakan akal atau otak kita dalam memahami phenomena kehidupan yang harus kita hadapi sebagaimana dinyatakan dalam surat Yunus ayat 100 : “… Allah murka kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”.
Allah dalam surat Insyiqaq ayat 19 menyatakan bahwa pemahaman akan diperoleh secara bertahap. “ Sesungguhnya kamu akan memperoleh pemahaman setahap demi setahap “.
Jadi memahami Islam tidak sekali jadi langsung berhenti. Tetapi senantiasa terus melakukan pengkajian dan tetap tidak berhenti membaca ,belajar dan berfikir. Lakukan selama hidup hingga akhir hayat. Upaya menggunakan otak untuk berfikir diperlukan agar jika semakin berumur dan menua, otak kita tidak cepat mengkeret yang akan menyebabkan daya pikir dan daya ingat kita akan cepat menurun sehingga dapat mengarah ke pikun.
Jakarta, 29 Dzulhijah 1432 H.
|
Ketua Gerakan Memakmurkan Masjid, Ketua Komisi Pengawas BAZNAS 2005-2011, Penasehat ISEI Cabang Jakarta 2001-2011, Ketua Umum Fokkus, Babinrohis Pusat, Mantan bendahara DPN KORPRI 2004-2009, Mantan Ketua IV PWRI 2003-2009, Ketua Umum Federasi Perasuransian Indonesia 2003, Ketua Umum Asosiasi Jaminan Sosial dan Jaminan Sosial 2000-2008, Direktur Utama PT Taspen 2000-2008 |

6 December 2011
155 views
4 Komentar

Alhamdulillah, Pak Achmad Subianto selalu memberikan pencerahan kepada kita. Subhanallah “Amin” dijabarkan secara tuntas dan bermakna. Jujur saja selama ini pemahaman saya tentang “Amin” hanya sebatas menjawab suatu doa dan atau penutup surah Al Fatiha. Kiranya Pak Achmad Subianto telah mengupasnya dgn panjang lebar, lengkap dengan dalilnya. Sebagai makmum saya selalu membaca surah Al Fatiha setelah Imam membacanya. Begitulah pengamalan saya yg di dapat sejak kanak-kanak.
Betul Pak, memahami Islam tidak sekali jadi lanhsung berhenti, tetapi senantiasa terus melakukan pengkajian, membaca, belajar dan berfikir. SALUT BUAT Bpk.ACHMAD SUBIANTO, yang selalu mengkaji dan berfikir dan menemukan hal-hal baru dalam pemahaman agama Islam. Wass.
Asslm Wr Wb,
Pak Alwan terima kasih atas komentar Bapak. Sebelumnya saya menyampaikan Selamat Tahun Baru 2012. Semoga Allah membimbing kita semau baik pemimpin atau rakyat unuk menjadikan Indonesia jujur, adil, bersih, sehat dan benar.
Allah memerintahkan agar setiap pribadi muslim harus memahami Islam secara kaffah dan tentunya menjadi pribadi yang kaffah pula. Untuk itu Allah memberikan otak dan hati untuk berfikir dan diajak berfikir, mengkaji berbagai persoalan yang terdapat baik dalam Qur’an kering maupun Qu’ran basah. InsyaAllah umat Islam akan menjadi umat yang diperhitungkan. Lihat apa yang terjadi dengan SMK di Solo. Para Doktor dan BUMN tidak bisa membuat mobil tetapi para guru dan murid SMK menunjukkan prestasinya mengalahkan perusahaan BPIS yang dulu mau buat Maleo tetapi tidak berhasil.
Orang Indonesia tidak bodoh.
Pada pertengahan Desember sy ke Semarang untuk emmebrikan Kuliah Umum di FE UNDIP dgn topik ” JAMINAN SOSIAL SEBAGAI BIAYA DAN SUMBER DANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG. Ketika sholat subuh di hari Jum’at di Masjid Baiturahaman , Simpang Lima terjadi diskusi yang intens dengan Ir Daryanto, alumni UNDIP yang sdg konsultasi S3 dengan Prof EKO untuk perlu adanya institusi pendidikan dan pelatihan pengelolaan masjid. Sy sdg coba mencerna ide ini dan mendiskusikn di Jakarta dengan Pak Giri Suseno dan rekan-rekan dari Yayasan Kamus. Ide ini memang masih prematur.
Pak Alwan,
Ada satu buku yang Bapak perlu baca yaitu SYNAGOGUE OF SATAN. Dapat dibeli di Gramedia. Kalau beli banyak dapat discount dari penerbitnya yaitu UFUK Press, telepon : 021-78847081 dan 021-78847037 fax : 021-78847081.
Silahkan didiskusikan. Itu kerjaan Yahudi menghancurkan dunia termasuk Islam.
Terima kasih.
Wasssalam
as
Terima Kasih atas Info dari Bapak
Semoga bermanfaat, Pak Alwan.