Kejujuran dan Islam

Latar belakang

Tulisan ini bermula pada saat Idul Adha tahun 1997. Kemudian dipersiapkan untuk Majelis Taqlim Direktorat Keuangan PT Garuda Indonesia. Selanjutnya diangkat menjadi bahan penulisan untuk majalah Rajawali Garuda Indonesia edisi 9/1997. Setelah dilakukan reediting dan pengayaan disampaikan dalam Majelis Taqlim Ramadan Masjid At Taqwa GMF(Garuda Maintenance Facility), Cengkareng pada hari Jum’at tanggal 16 Januari 1997 pk 15.30 WIB.

Sudah menjadi kebiasaan Majelis Taqlim Masjid At Taqwa selama bulan Ramadan senantiasa melakukan acara pengajian membahas Al Qur’an dan As Sunnah. Pada saat itu mereka menghubungi saya untuk meminta saya selaku salah satu Direksi (Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia) untuk menutup acara pengajian rutin tersebut.

Mereka meminta saya untuk menyampaikan pokok bahasan mengenai kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Saya menyampaikan bahwa saya belum paham betul mengenai hal tersebut. Muhammad Rasulullah SAW saya belum mengenal betul tetapi kalau Muhammad yang lain yaitu Mar’ie Muhammad saya sangat kenal karena beliau atasan saya di Departemen Keuangan. Tetapi saya bersedia untuk menyampaikan bahasan lain yaitu Kejujuran dan Islam, kebetulan saya sudah memiliki makalahnya.

Kejujuran dan Islam adalah suatu bangunan yang saling memperkuat dan tidak terpisahkan. Apabila kejujuran tidak lagi mendasari keislaman seseorang, maka runtuhlah bangunan keislamannya.

Kejujuran perilaku keseharian Muhammad SAW

Adalah tidak kebetulan bahwa Nabi terakhir yang diturunkan di dunia ini, Muhammad Rasulullah SAW sebelum memperoleh wahyu untuk mengembangkan Islam sebagai suatu agama, sejak kecil dalam kesehariannya berperilaku jujur sehingga dijuluki Al Amien (jujur dan dapat dipercaya).

Apabila dikaji dengan mendalam phenomena ini, sebenarnya menunjukkan suatu philosophy yang teramat sangat mendalam. Artinya bahwa landasan dari Islam adalah kejujuran.

Muhammad SAW exist bukan Islamnya dulu tetapi kejujurannya yang menonjol baru kemudian Islamnya. Dengan landasan kejujuran (honesty) ini menumbuhkan kepercayaan (trust) dari masyarakat dan lingkungannya serta alam sekitarnya.

Inilah yang sebenarnya terjadi pada diri Muhammad SAW sebelum memperoleh wahyu (Islam), Muhammad SAW dipersiapkan oleh Allah SWT menjadi seseorang yang jujur dan dapat dipercaya. Pendidikan ini selain diperoleh langsung dari Allah SWT tentunya dengan selalu menyendiri di Gua Hira dan selalu memperhatikan langit dan phenomena alam, juga diperoleh dari ibu susunya. Pula diperoleh dari kakek dan pamannya, meskipun Islam belum ada secara utuh.

Perkembangan pribadi Muhammad dengan demikian adalah selalu seirama dan menyesuaikan dengan fitrahnya sebagai manusia sejak dilahirkan.

Muhammad SAW dipersiapkan sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya selama + 40 tahun, sedangkan sebagai pembawa risalah hanya dalam waktu hampir 23 tahun sejak diangkat menjadi Nabi dengan diberikan wahyu pertama “Iqra Bismirobbikal-ladzi Khalaq…/Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan “.

Untuk mendapatkan Islam, rupanya Nabi di persiapkan dulu selama 40 tahun dalam kejujuran. Muhammad dengan sifat jujur dan dipercaya menjadi manusia yang paling luhur budinya. Bahkan Allah SWT menjadi saksi dengan firmannya.

“ dan sesungguhnya, engkau mempunyai akhlak yang mulia “
(Al Qalam :68:4)

Kelahiran Islam sebagai Agama

Kejujuran merupakan Pondasi hidup dan kehidupan

“ Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (sebagai) keturunan mereka dan (Allah) mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “ Bukankah Aku ini Tuhanmu ?
Mereka menjawab : “ Ya betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi “
“(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan : Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (KeEsaan Tuhan)”
(Al-A’raf :7 :172)

“Atau agar kamu tidak mengatakan : Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka.
Maka apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.”
(Al-Araf :7:173)

Pada saat menjawab “betul” ini pencerminan kejujuran. Ini berarti bahwa landasan hidup dan kehidupan manusia adalah kejujuran.

Ayat ini memang menyatakan kesaksian calon manusia tentang keesaan & ketaqwaan Tuhan yang menurut bahasa Cak Nurcholish Madjid dinamakan sebagai perjanjian primodial. Namun lebih dari itu menunjukkan pernyataan tentang kejujuran. Jadi ayat ini refleksi adanya pernyataan kejujuran (Statement of honesty).

Jadi pada tahap awal penciptaan manusia pun sudah dituntut suatu pernyataan jujur. Dengan demikian jujur itu datang lebih dulu dari pernyataan ketaqwaan.

Marilah kita perhatikan beberapa hikayat yang membenarkan hal ini bahwa ketaqwaan kepada Allah SWT selalu dilandasi kepada kejujuran.

Hikayat Pengembala & Umar Ra

Pengembala kecil yang sedang mengembala sekelompok kambing di suatu padang didatangi khalifah Umar ra, dan Umar ra mencoba menguji dengan bermaksud membeli seekor kambingnya. Anak kecil ini menyampaikan bahwa itu bukan kambingnya tetapi kambing tuannya. Umar menjawab, “kan tuannya tidak ada, kalau djual satu saja tidak ketahuan “. Anak kecil ini menyampaikan “ bagaimana dengan Tuhan ?.”

Kejujuran Gadis Pemerah Susu

Dalam perjalanan tidak resmi Khalifah Umar bin Khattab berhenti disuatu rumah mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya, pemerah susu.

“ Biar banyak untungnya, campuri saja susu kambing ini dengan air“ kata ibunya.

“ Bagaimana aku harus melakukannya sedang Amirul Mukminin telah mengeluarkan peraturan yang melarang kita berdagang secara tidak jujur “ kata anak gadisnya.

“ Tokh khalifah Umar tak mengetahuinya “

“ Meski khalifah tak mengetahui, Allah tak pernah tidur selamanya “ kata gadis itu.

Terkesan oleh kejujuran si gadis, keesokan harinya khalifah Umar bin Khattab menyuruh pengawalnya untuk mencari keterangan mengenai gadis tersebut. Setelah diperoleh laporan, khalifah memanggil putranya, Ashim dan memerintahkan untuk menikahi gadis yang jujur itu.

Kejujuran seorang pencuri/perampok

Dalam satu riwayat seorang Arab Badui yang pekerjaannya selalu mengerjakan pekerjaan yang buruk termasuk mencuri dan merampok datang kepada Rasulullah SAW dan menyatakan ingin masuk Islam tetapi asalkan dia diperbolehkan tidak mengerjakan sholat, puasa dan zakat. Rasulullah SAW menjawab boleh dan bisa saja. Lalu beliau mengatakan persyaratannya ringan dan tidak berat yaitu cukup hanya “berkata benar atau berperilaku jujur”. Arab badui itu pulang dengan senang karena ternyata masuk Islam sangat mudah.

Namun kemudian apa yang terjadi ketika dia mulai melakukan pekerjaannya yaitu mencuri. Ketika pulang kerumah, isterinya menanyakan dari mana barang yang dia bawa pulang itu, lalu ketika akan menjawab dia teringat pesan Rasulullah. Dia tidak bisa mengelak untuk tidak berbohong. Pada akhirnya dia tidak lagi berdusta dan semua perintah agamanya bershalat, berpuasa dan berzakat justru dikerjakannya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya kejujuran merupakan fondasi dari Islam bahkan dasar dari setiap agama. Jika kejujuran sudah tidak ada pada diri seorang muslim maka sebenarnya dia sudah bukan Islam lagi. Demikian pula jika kejujuran tidak ada lagi pada umat beragama sebenarnya yang bersangkutan sudah tidak beragama lagi.

Ketiga hikayat ini menunjukkan suatu gambaran keteguhan hati seseorang baik itu anak-anak atau orang dewasa yang mencerminkan adanya kejujuran. Kejujuran yang tinggi merupakan landasan ketaqwaan . Atau ketaqwaan yang tinggi terjadi karena jujur, maka kalau orang yang merasa mengaku bertaqwa tetapi masih berbuat tidak benar, mengutip uang orang, mengumpulkan harta-harta yang tidak halal dan batil berarti dia tidak jujur kepada dirinya maupun Al- Khaliknya.

Sifat jujur menimbulkan sifat dipercaya. Kejujuran merupakan landasan / pondasi dari syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji serta amalan-amalan ibadah yang lain.

Apakah kita bersyahadat dengan jujur ataukah main-main, sehingga nantinya sesudah menyatakan ketaqwaan kepada Allah SWT dan bersaksi Muhammad adalah Rasulullah, tetapi karena persoalan dunia yang sepele mau mencabut kembali pernyataan tersebut. Bertukar akidah.

Apakah kita telah shalat dengan jujur, berwudhu dengan baik. Meskipun di tengah jamaah yang padat karena kita batal wudhu (misalnya) maukah kita keluar dari jamaah untuk ambil air wudhu kembali atau kita lebih memilih tetap tinggal karena malu dilihat orang sebagai orang yang batal wudhunya. Kita lebih pilih mana malu di hadapan Allah SWT atau di hadapan manusia.

Apakah kita telah jujur membayar zakat secara benar takaran dan hitungannya. Jangan-jangan hanya untuk supaya dilihat dengan memanggil wartawan untuk diekspose di surat kabar/majalah/di TV dengan seolah-olah sudah berzakat dengan nilai tertentu padahal masih banyak lagi zakat yang sebenarnya belum ditunaikan karena lebih sayang kepada harta dan dunia. Meskipun memanggil wartawan pun tidak dilarang.

Apakah kita telah jujur dalam berhaji. Dari mana sumber harta untuk berhaji. Harus jujur. Tentunya dari harta yang benar-benar halal dan bersih yang telah dikeluarkan zakatnya.

Apakah itu sudah dilakukan ?

Apakah benar-benar kita lebih ikhlas mengeluarkan harta untuk dipergunakan menunaikan haji dari pada harta tersebut disimpan di deposito atau dibelikan mobil / rumah.

Apakah kita masih sayang harta kita dipakai haji, dikorbankan dan dikembalikan kepada yang punya sedangkan kita masih tega minta diskon ONH (untuk diskon ticket) sedangkan harta yang tinggal masih berlebihan . Apakah kita masih selalu saja berpendapat bahwa untuk naik haji sebaiknya tidak perlu mengeluarkan harta karena dengan biaya dinas masih bisa dilakukan ?

Mengapa kita masih tega tidak jujur kepada diri dan Sang Pencipta dalam urusan haji ?

Apakah kita sebagai pemimpin umat masih tidak mau meluluhkan kesombongan kita untuk menyatakan bahwa penetapan tanggal ibadah Hari Raya Haji berbeda dari penetapan sebelumnya.

Apakah kita tidak mau jujur untuk menyampaikan kepada umat bahwa penetapan tanggal untuk puasa sunnah adalah hari ini bukan besok sesuai yang ditetapkan dalam SK ?

Kenapa kita tidak mau jujur kepada umat, kepada Rabb, hanya karena telah ada SK penetapan hari Raya . Kenapa kita lebih takut merubah SK daripada takut kepada Allah SWT dan aturan-aturannya ?. Mengapa mau mencari alasan untuk pembenaran yang sebenarnya di luar dari hati nurani yang jujur.

Masihkah kita selaku laki-laki tidak mau jujur untuk mentaati larangan Rasulullah SAW tidak mengenakan cincin emas?

Masihkah kita tidak mau jujur untuk mentaati larangan Rasulullah SAW untuk tidak bershalat dengan baju bergambar?

“ Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah itulah orang-orang yang bertaqwa “
(Az-Zumar :39:33)

“ Kejujuran adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan “
(HR. Tarmizi)

“ Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga “
(HR. Bukhari Muslim)

Kejujuran adalah pula pesemaian yang menumbuhkan keyakinan, keadilan, kebenaran, kesucian, kedamaian, kebaikan dan ketenangan hati.

Rasulullah bersabda sesuai disampaikan oleh Tamimi ad-Darii :

“ Agama itu adalah kejujuran ! Kami bertanya ; Bagi siapa ya Rasulullah ? Sabdanya : Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi seluruh pemimpin –pemimpin muslimin dan seluruh umat –Nya.”
(HR Muslim dari Tamimi Ad-Darii)

Penelitian Pakar Akademisi

Dalam majalah World Executif’s Digest, September 1997 terdapat article yang menarik yang menyangkut kejujuran yaitu : Barry Posner, Professor dari Universitas Santa Clara, Amerika Serikat di bidang organizational behavior dan James Kouzes dalam melakukan survey yang berkelanjutan mengenai karakteristik yang dikagumi dari CEO dan selama 10 tahun terakhir diperoleh 10 jawaban tertinggi yang tidak pernah berubah banyak dan berkesimpulan :” No matter where we have conducted our studies-regardless of country, geographical region, or type of organization- the most important leadership attribute since we began our research in 1981 has always been honesty they elaborate”

Kesepuluh karakteristik dimulai dari yang tertinggi adalah honesty, forwardlooking, inspiring, competent, fair-minded, supportive, broad- minded, intelligent, straight forward, courages.

Disini secara ilmiah, pihak akademisi telah membuktikan bahwa karakteristik dasar yang diperlukan oleh seorang pimpinan adalah kejujuran. Hal ini membuktikan bahwa apa yang telah dinyatakan oleh Sang Pencipta ternyata secara faktual diperoleh kesimpulan yang sama.

Phenomena masyarakat Islam Indonesia

Masyarakat kita termasuk pemimpin – pemimpin rasanya banyak yang tidak memahami benar bahwa pondasi Islam adalah kejujuran.

Apabila kejujuran tidak ada, maka runtuhlah bangunan ke-Islamannya bahkan bisa porak-poranda. Sedangkan Muhammad SAW itu adalah seorang Uswatun Khasanah. Maka seorang pribadi muslim harus benar-benar menjadi seorang yang ‘honest’ tanpa itu shalat yang dilakukan tidak berbekas, haji yang dikerjakan tidak merasuk dalam peri kehidupan keseharian. Syahadat yang selalu diucapkan tidak nampak dalam sikap dan tutur kata.

Apabila dia seorang pegawai negeri hanya masalah gaji kecil yang selalu menjadi kambing hitam sehingga terpaksa melakukan kolusi, korupsi, mempraktekkan “ one for you, one for me “. Di setiap kantor-kantor pelayanan Pemerintah selalu ada uang semir, uang lelah atau diciptakan seperti uang sidang, uang jasa/konsultasi hanya untuk keluarnya secarik kertas, apakah itu surat dinas, KTP, Visa, paspor, IMB, surat bebas fiskal, restitusi pajak, dll. Apakah karena takut miskin harus melakukan praktek-praktek tersebut.

Banyak bentuk-bentuk lain yang sebenarnya dicoba dibuat halal dari kacamatanya. Padahal ini bertentangan dengan sifat dasar Islamnya yaitu kejujuran. Akibatnya mayoritas masyarakat Islam tetapi segala praktek-praktek keseharian sudah tidak sesuai dengan Islam.

Perbuatan-perbuatan syaithaniah, jahiliah dan nafsuniah yang nampak, meskipun setiap hari dia selalu shalat dan berdoa. Tetapi shalat dan doa yang hampa yang jauh dari petunjuk dan hakekat yang sebenarnya.

Padahal shalat mencegah kemungkaran. Itulah akibatnya sehingga selalu timbul peringatan dari Pemilik Alam dan seisinya berupa bencana alam, huru-hara, bentrokan, timbulnya krisis, dll.

Masyarakat Islam kita kebanyakan adalah manusia–manusia yang Islam sejak lahir. Jadi Islam dulu tanpa adanya pemikiran dan pemahaman. Sehingga dalam perjalanannya bisa menemukan / memperoleh hakekat hidup bisa tidak. Kejujuran tumbuhnya belakangan dan bisa juga tidak tumbuh. Apabila yang terakhir ini terjadi akibatnya yang bersangkutan bisa menjadi pengikut dan beraliansi dengan syaithan, terperangkap hawa nafsu dan lebih mementingkan dunia, meskipun melaksanakan syariat Islam sehari-hari. Itu sebabnya timbul masyarakat Islam yang kolusi, korupsi, one for you one for me, fitnah-menfitnah, masyarakat bersurat kaleng. Islamnya tidak “kaffah” dan untuk menjadi demikian memerlukan perjuangan yang berat dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Jadi masyarakat kita sekarang pada umumnya, Islam dulu (pada umumnya lahir sudah Islam) baru bicara soal kejujuran. Itu pun kalau sadar. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai persoalan di masyarakat kita yang nota bene 90 % adalah muslim. Timbulnya kolusi, korupsi, rendahnya akhlaq.

Itu terjadi di masyarakat Islam kita karena bukan akhlak jujur dulu yang diutamakan / dipraktekkan tetapi dari kecil lebih diutamakan mengenal sembahyang , mengaji sebagai ritual dan kurang diberikan bekal phenomena kejujuran serta pengertian dan makna di belakang ibadah-ibadah itu semua. Jadi sudah saatnya agar sekolah-sekolah kita mengajarkan masalah kejujuran / etika ini. Ilmu pengetahuan mudah diajarkan kalau dasarnya adalah “ honesty ” Untuk mendapatkan perilaku jujur pada saat ini rupanya memerlukan perjuangan yang memang berat. Perlu berjihad.

Bukankah kita dituntut untuk menjadi Islam seutuhnya? Maka bagi kita yang sudah kadung Islam dari lahir, perteguhlah landasan kejujuran anda sehingga nampak dalam perilaku anda keseharian baik di rumah maupun dalam perjalanan, di kantor, di pasar atau di tempat kerja manapun. Adalah tidak berlebihan atau mengherankan kalau kita mengatakan bahwa seorang Islam (terlahir sebagai Islam) masih perlu di-Islamkan, sehingga menjadi pribadi muslim seutuhnya (Kaffah).

“ Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan “
(Al-Baqarah :2 :208)

Hal ini berarti kalau tidak berhasil mencapai Kaffah dalam kehidupan kita maka kecenderungannya bisa memperturutkan langkah-langkah syaithan. Dan ini merupakan perjuangan (battle of life).

Islam sejak lahir tidak salah, bahkan itu patut disyukuri, namun perlu mencapai Islam yang Kaffah. Sehingga orang Islam (lahir sebagai muslim) masih perlu di-Islamkan sepanjang hidupnya untuk menjadi manusia Islam yang seutuhnya.

Manusia Islam seutuhnya itu yang bagaimana? Yaitu manusia Islam yang jujur dan dapat dipercaya, yang memahami Al-Qur’an dan Hadits. Yang mencoba mencari tahu mengenai isi Al Qur’an dan As Sunnah serta mencoba untuk meningkatkan keyakinannya dan mengamalkannya. Mencoba meningkatkan penghayatan dan pengalaman terhadap syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji dalam kehidupan sehari-hari. Mencoba menyontoh perikehidupan Nabi dan sahabat.

“Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebohongan itu membawa kepada kebodohan “:
(Hadits Nabi SAW)

“ Dan tiada nikmat yang lebih utama yang diberikan Allah kepadanya sesudah Islam melebihi sifat jujur dan tiada bencana yang lebih besar akibatnya melebihi kebohongan “
(Ibrahim Ali Jarullah : “baiknya kejujuran, Buruknya kebohongan”

“ Pada hari kiamat, kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah mukanya menjadi hitam “
(Az Zumar:39 :60)

Dalam sejarah kehidupan Nabi sebagaimana dibaca dalam hikayat, Muhammad kecil pernah suatu ketika pada saat di dekat Ka’bah didatangi oleh Jibril dan dibedah dadanya dan hatinya kemudian dicuci dengan air zam-zam dan diisi hikmah.

Ini mencerminkan bahwa kejujuran akan muncul dan bertahan apabila hatinya bersih.

Jakarta, Idul Adha 1997.

Penulis adalah Achmad Subianto:
Ketua Gerakan Memakmurkan Masjid, Ketua Komisi Pengawas BAZNAS 2005-2011, Penasehat ISEI Cabang Jakarta 2001-2011, Ketua Umum Fokkus, Babinrohis Pusat, Mantan bendahara DPN KORPRI 2004-2009, Mantan Ketua IV PWRI 2003-2009, Ketua Umum Federasi Perasuransian Indonesia 2003, Ketua Umum Asosiasi Jaminan Sosial dan Jaminan Sosial 2000-2008, Direktur Utama PT Taspen 2000-2008

Beri komentar

Anda dapat menggunakan tag-tag XHTML berikut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>