Indonesia yang merdeka pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H selalu dikatakan merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Memang kehadiran suatu bangsa di planet dunia yang kemerdekaannya bertepatan dengan hari Jum’at yang merupakan hari rayanya umat Islam dan di bulan suci Ramadhan, bulan sucinya umat Islam tentunya bukan direncanakan oleh manusia Indonesia kala itu baik Soekarno-Hatta atau pemimpin-pemimpin warga bangsa lainnya. Ini benar-benar rekayasa Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah negara bangsa Indonesia diproklamasikan dengan penduduknya yang mayoritas beragama Islam yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke tentunya menjadi kewajiban khususnya baik pemimpin maupun umat Islam untuk mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh warga bangsa. Banyak prestasi dan kinerja yang telah dihasilkan dengan adanya pertumbuhan ekonomi, industri dan perdagangan, kemajuan pertanian dan teknologi, sosial, politik, keamanan dan lain-lain.
“ Rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala penjuru, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan, dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.
(An Nahl:16:112)
Namun apa yang terjadi dibalik prestasi yang positif tersebut, dengan berbagai kebijakan dan upaya dari sejak merdeka hingga kini oleh Republik Indonesia juga dihasilkan hal-hal yang sebaliknya yaitu pemimpin dan masyarakat yang jauh dari akhlakul kharimah, negara yang krisis, KKN, terjadinya gempa, gunung meletus, tsunami, banjir lumpur, banjir air, hama dan wabah serta dan lain-lain bencana, sehingga menimbulkan pembodohan, kesengsaraan, dan kemiskinan warga bangsa.
Allah SWT memperingatkan sekiranya umat Islam yang menghuni Nusantara tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT yang tercantum dalam Al Qur’an maupun yang dicontohkan oleh Rasulnya, Muhamad SAW maka akan berdampak negatif.
”… Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”
(Al Anfaal:8:73)
Umat Islam Indonesia menurut surat Ali Imran 110 oleh Allah SWT dinyatakan sebagai umat yang terbaik yang dilahirkan di planet bumi dari Sabang sampai Merauke. Namun ada syaratnya bahwa umat Islam Indonesia harus menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta beriman kepada Allah SWT.
“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah….”
(Ali Imran:3:110)
Kenyataannya selama Indonesia merdeka perilaku dan kebijakan pemimpin bangsa baik dari eksekutif, legislative maupun yudikatif yang sering tidak benar, namun selama itu dibiarkan saja. Perilaku dusta banyak dilakaukan para pemimpin, missal ekonomi kropos dibilang ekonomi dalam keadaan baik dan stabil. Banyak hutang dibilang ekonomi sehat dan fondasi kuat. Indonesia menjadi macan Asia yang trejadi justru krisis.
“ Hati-hatilah dengan dusta, kaerna dusta akan menjerumuskan kepada keburukan (krisis)”
(HR Ibnu Mas’ud ra)
“ Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa” .
(Asy Syuara:26:221-222)
“ Barangsiapa yang ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya hendaklah ia bicara benar (jujur), menepati amanah dan tidak mengganggu tetangga”.
(HR Al Baihaqi).
Tidak banyak yang berani beramar ma’ruf dan nahi mungkar baik dengan tangan maupun dengan ucapan karena berbagai alasan : takut kehilangan jabatan karena dipecat, takut dipindah ke tempat yang kering atau keluar dari Jakarta atau luar Jawa yang jauh atau tidak diberi pekerjaan. Mereka kebanyakan tidak menggunakan akal sehat dan lebih takut kepada manusia: apakah selaku atasan, boss maupun senior daripada kepada Allah SWT. Padahal perasaan takut hanya diciptakan untuk Allah SWT.
“ Maka janganlah kamu takut kepada manusia dan takutlah kepadaKu”.
(Al Maaidah:5:42)
“… dan Kamu takut kepada manusia, sedangkan Allahlah yang lebih berhak kamu takuti” .
(Al Ahzab:33:37)
“ Mengapa kamu takut kepada mereka, padahal Allahlah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman”.
(At Taubah:9:13)
Upaya perbaikan tidak cukup hanya seumur kabinet yang hanya lima tahun tetapi memerlukan penataan kembali secara mendasar dan menyeluruh dalam jangka panjang yang harus dimulai dari saat ini atau kemarin-kemarin.
Penataan harus dimulai dari hal-hal mendasar yang mempengaruhi perikehidupan berbangsa dan bernegara dari mata uang rupiah, APBN & APBD, kemandirian pembiayaan Negara dan Daerah, pemisahan sumber dana yang halal dari yang haram dan subhat, jaminan sosial masyarakat (National Social Security) dll.
Hasilnya tidak akan terjadi dalam satu dua tahun kedepan tetapi akan memerlukan kurun waktu yang panjang. Dikarenakan merusaknya diwaktu-waktu yang lalu dengan berbagai kebijakan Pemerintah yang salah arah dengan dibantu IMF dan konsultan asing, juga dilakukan dalam kurun waktu yang panjang.
” Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya”.
(Al A’raff:7:56)
Bukankah Allah SWT pernah memperbaiki dunia ini termasuk bumi Indonesia tetapi ternyata bumi Indonesia justru oleh pemimpin dan bangsa Indonesia sendiri dengan berbagai kebijakan dan upayanya telah menyebabkan Indonesia menjadi tidak bersih, tidak sehat dan tidak benar.
Tentunya jangan minta Tuhan berbuat; sebelum kita berbuat memperbaiki terlebih dahulu karena akibatnya akan luar biasa seperti yang terjadi saat ini, sehingga APBN dan APBD pun terkuras untuk membiayai akibat gempa, gunung meletus, tsunami, banjir lumpur, banjir air, hama dan wabah serta lain-lain bencana yang melanda seluruh Nusantara.
” Ingatlah ketika Ia…… menurunkan hujan kepadamu dari langit guna membersihkan dirimu dengan itu, dan menghilangkan noda setan, memperteguh hatimu dan menapakkan kakimu kuat-kuat”.
(Al Anfal:8:11)
Sebelum Tuhan berbuat membersihkan bumi ini antara lain melalui hujan yang bisa menimbulkan banjir, seyogyanya manusia harus berbuat terlebih dahulu dengan cara membersihkan diri dan yang terkait dengan dirinya dengan benar antara lain melalui berakidah yang benar, sholat yang khusuq, menunaikan zakat, infaq dan shadaqah yang benar, mengerjakan puasa Ramadhan dengan beriktikaf serta ibadah puasa-puasa lainnya, serta mengerjakan ibadah haji untuk mendapatkan haji mabrur; dan berbagai kebajikan lainnya.
” Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…”.
(Al Bayyinah:98:5)
Air yang turun dari langit ternyata tidak hanya untuk menyuburkan bumi tetapi juga dimaksudkan untuk membersihkan bumi dari noda setan. Mengingat bumi Indonesia sudah terkontaminasi dengan noda-noda setan yang sudah demikian parah sehingga menimbulkan krisis yang berkepanjangan maka menjelang akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, Allah SWT terpaksa menurunkan hujan yang akhirnya menimbulkan banjir besar diseluruh Nusantara serta berbagai musibah lainnya.
Menghadapi berbagai ujian , cobaan, gangguan dan godaan setan serta musibah, manusia perlu membentengi diri dengan do’a untuk mengharapkan perlindungan dari Allah SWT, kemudian harus dilanjutkan dengan berbuat sesuatu.
Selama dalam hidup berbangsa dan bernegara untuk mengisi kemerdekaannya, warga bangsa Indonesia dan pemimpinnya akan menghadapi berbagai persoalan antara lain ujian dan cobaan, gangguan dan godaan serta musibah atau bencana. Ujian dan cobaan berasal dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas iman manusia, sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Ankabut dan Al, Anbiya :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman! . Sedang mereka tidak diuji lagi”
(Al?Ankabut:29:2)
“ Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kepada Kami jualah kalian kembali”.
(Al Anbiya:21:35)
Iman selama ini banyak diucapkan melalui mulut-mulut dengan berbgai kata-kata manis dan indah, tetapi menurut Allah SWT iman muncul harus dari qolbu atau hati, sehingga setiap pribadi muslim mampu beramar ma’ruf dan nahi munkar.
“ Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami baru Islam”, karena iman belum masuk kedalam hatimu”.
(Al Hujurat:49:14)
Allah SWT berharap agar manusia selaku khalifah, makhluk dan hamba-Nya selama diberikan amanah di dunia senantiasa bertambah kualitas keimanannya dari waktu kewaktu dengan adanya berbagai ujian dan cobaan sehingga pada akhirnya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya bahkan lebih dari pada dirinya dan mencapai tataran khusnul khotimah.
“Katakanlah,” Jika bapak-bapak kamu, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”
(At Taubah:9:24)
“ Hai Jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridlo dan diridloi”
(Al Fajr:89:27-29)
Selain itu manusia akan mendapatkan godaan dan gangguan dari makhluk Allah yang telah bersumpah untuk senantiasa menggoda manusia dari sejak awal dunia ini diciptakan sehingga akhir jaman.
“ (Iblis) menjawab :Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.
(Al A’raf:7:16-17)
Iblis dan balatentaranya termasuk Jin dan setan akan senantiasa berupaya menggoda dan mengganggu manusia agar tidak berada di jalan yang lurus serta tidak taat kepada Allah, tidak soleh serta tidak jujur.
“Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau (Allah), sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang disucikan (ikhlas) diantara mereka”.
(Shaad:38:82-83)
“ Setan ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian dalam minuman keras dan perjudian, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan melakukan shalat. Lantas tidakkah kalian berhenti dari hal itu?”
(Al Maaidah:5:91)
“ Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada didalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka (Al Qur’an) tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”
(Al Mu’minuun:23:71)
Sebagai konsekwensi tidak peduli dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka umat Islam banyak berteman dengan setan sehingga terjadi krisis. Setan akan menemani manusia yang suka berdusta dan tidak jujur, tidak terkeculai umat Islam.
“ Barang siapa yang berpaling dari Al Qur’an niscaya Kami sertakan setan atasnya, maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”
(Az Zukhruf:43:36)
” Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang lurus dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”
(Az Zukhruf:43:37)
“ Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa”.
(Asy Syuara:26:221-222)
Bahkan Rasulullah SAW juga mengeluhkan bahwa banyak juga dari umatnya yang tidak peduli dengan Al Qur’an baik untuk membacanya maupun mengkajinya . Ataupun bagi para pemimpin unutk menjadikan-Nya sebagai landasan bagi setiap kebijakan atau aturan yang dibuat untuk mengatur umat dan masyarakat.
“ Dan Rasul berkata, ‘ Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah meninggalkan Al Qur’an ini”
(Al Furqaan:25:30)
“ Dijadikan kenistaan dan kehinaan atas orang yang melanggar perintahku”
(HR Ahmad diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra)
Selain itu, segala musibah dan bencana juga akan dihadapi oleh manusia Indonesia akibat oleh perbuatan mereka itu sendiri, baik itu dari pemikiran maupun tangannya. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai nafsu dan mempunyai ego dan naluri baik kejahatan maupun kebaikan, sehingga jika hal itu tidak dikelola dengan sebaik-baiknya akan menimbulkan musibah, bencana dan kerusakan pada dirinya, keluarganya, lingkungan dan bumi serta dunia tempat dia hidup, sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam surat Asy Syams, Thaahaa dan Al Jaatsiyah :
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu”.
(Asy Syams:91:8-9)
“ .. Dan barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”
(Thaahaa:20:123)
“ Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan jangan kamu mengikuti nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”
(Al Jaatsiyah:45:18)
Akibat dalam mengerjakan sesuatu, manusia sering melakukan kesalahan maupun kekeliruan baik disengaja maupun tidak disengaja maka akan menimbulkan kerusakan atau bencana serta musibah.
” Musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”.
(Asy Syura:42:30)
” Adzab yang demikian itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya”.
(Al Anfaal:8:51).
” Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia ”
(Ar Rum:30 41)
Allah SWT menyatakan bahwa musibah apapun yang terjadi pada manusia akibat olah atau perilaku dan perbuatan dari manusia itu sendiri. Seringkali manusia mencampur adukkan antara ujian dan cobaan dari Allah dengan musibah yang dialami karena kesalahannya sendiri. Akibatnya sering tidak menyalahkan diri sendiri tetapi justru lebih banyak menyalahkan orang lain bahkan Tuhan sering pula disalahkan, sehingga tidak pernah mendapatkan pemahaman mengenai hakekat dari eksistensi dirinya dan hidup dan kehidupannya.
Ketika diingatkan seringkali yang bersangkutan termasuk para pemimpin menyatakan bahwa apa yang dilakukan sudah benar. Padahal keliru karena menyalahi sunatullah. Allah SWT mengingatkan manusia yang berpendapat seperti itu, sebagaimana dinyatakan dalam Surat Al Baqarah :
“ Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami sedang membangun. ‘. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang merusak tetapi mereka tidak sadar“.
(Al Baqarah:2:11-12)
Oleh karena itu Allah mengingatkan kita untuk tidak membuat kerusakan di bumi ini.
“ Janganlah kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan”.
(Al Ankabut:29:36)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya”.
( Al A’Raaf:7:56 )
Mengingat demikian banyak ujian dan cobaan serta godaan dan musibah serta bencana, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa bisa terjadi “pagi beriman sore kufur, pagi kufur sore beriman”.
Dalam menghadapi kehidupan yang tidak ringan ini, manusia memerlukan perlindungan tentunya dari Allah SWT.
” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akherat…”
(Fushshilat:41:31)
“ Rumah yang dibacakan Al Qur’an dan didzikirkan Allah didalamnya, penuh berkah-Nya dan malaikat hadir di dalamnya, setan jauh darinya. Rumah tersebut memberikan cahaya bagi penduduk langit; sebagaimana bintang bagi penduduk dunia. Rumah yang tidak dibacakan Qur’an dan dzikir Allah didalamnya, menjadi sedikit berkahnya. Malaikat menjauh dan setan hadir didalamnya”.
(Ali bin Abi Thalib as)
Rasulullah SAW pun kepada setiap pribadi muslim dan setiap insan Indonesia memberikan wasiat sebagaimana disampaikan dalam Haji Wada:
“ Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kamu sesuatu, yang bila kamu pegang ia erat-erat niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, dua saja: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Hai manusia dengarkanlah baik-baik apa yang aku ucapkan kepadamu niscaya pasti kamu bahagia untuk selama-lamanya dalam hidupmu!”
Hal ini sejalan dengan pernyataan Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Ahzaab dan surat Al Hujurat.
“ Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (sunnah Nabi SAW). Sungguh Allah Maha Lembut, Maha Mengetahui”.
(Al Ahzaab:33:34)
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”.
(Al Hujurat:49:15)
Jadi Al Qur’an dan As Sunnah merupakan bekal utama bagi setiap pribadi muslim maupun manusia Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya.
Pages: 1 2


