Pertama Kali Melakukan Sujud Tilawah

Ada sms masuk dari Dhini, sekretaris Bapak Didin Hafidhuddin, Ketua Umum BAZNAS, menanyakan apakah saya bersedia untuk ke daerah dalam rangka pemberian santunan untuk para Yatim Piatu. Program ini di rancang oleh BAZNAS untuk pertama kalinya guna memberikan kebahagiaan bagi para Yatim Piatu di Bulan Ramadhan di seluruh Indonesia untuk 11 kota dengan mengumpulkan Yatim piatu sebanyak 11.000. Setiap kota kebagian 1.000 yatim piatu. Saya diminta untuk memilih antara Menado atau Medan. Keberangkatan akan diatur oleh BAZNAS mulai hari Jum’at. Saya menawar boleh tidak saya berangkat satu hari sebelumnya, hari Kamis tanggal 18 Agustus 2011 dengan harapan saya bisa melakukan sosialisasi SJSN dan BPJS. Ternyata boleh dan kemudian saya mencoba mengecek di Taspen Medan siapa yang menjadi Kepala Cabang dan Wakilnya disana dan di Taspen Menado. Ternyata di Taspen Medan ada Sdr Wiharto dengan Wakilnya Sdr Dodi. Sedangkan di Menado Sdr Hasrizal, dulu suka mengurus Binrohis Taspen di Kantor Pusat Jakarta, Jl Suprapto, Cempaka Putih.

Saya  akhirnya memilih Medan dengan pertimbangan di Medan ada Saudara Dodi yang seorang Aktuaris dan dulu pernah menjadi Ketua Serikat Karyawan Taspen dan kemudian ditugaskan di Bogor sebelum ke Medan. Saya ingin bertukar fikiran mengenai perhitungan Aktuaria untuk penentuan  iuran Program Jaminan Sosial. Sdr Dodi mengatakan: ” Sudah lama tidak praktek aktuaris, Pak”. Moga-moga saja ilmunya yang langka itu tidak hilang karena hal itu sangat diperlukan terlebih-lebih dalam rangka pembentukan BPJS (Badan Penyelenggara  Jaminan Sosial).

Berangkat ke Medan hari Kamis dengan pesawat Garuda Indonesia di pagi Subuh dan ketika tiba di Medan dijemput oleh Sdr Dodi dan Sdr Syarifudin eks Humas Taspen. Sdr Wihartonya sedang ke Jakarta , ternyata dia diangkat sebagai Sekretaris Perusahaan PT Taspen. Saya langsung ke hotel untuk menyimpan tas pakaian. BAZNAS memilihkan hotel Madani yang lokasinya dekat dengan Masjid Agung Medan, di Jalan Sisingamangaraja/Amaliun No. 1 Medan 20215.

Acara BAZNAS akan berlangsung hari Jum’at sore menjelang buka Puasa di Asrama haji Medan maka hari Kamis itu langsung ke Taspen Cabang Medan.  Acara silaturahim dengan rekan-rekan Taspen sambil menjelaskan persoalan SJSN/BPJS dan tanggapan masyarakat terhadap Taspen karena sejak saya berhenti sebagai Direksi Taspen banyak keluhan para peserta Taspen. Banyak yang sering meng-sms saya jika ada keluhan. Saya tidak tahu apa yang diperbuat Direksi Taspen sekarang dalam memberikan pelayanan kepada pesertanya baik PNS maupun pensiunan. Acara pertemuan dengan Sdr Dodi dan staf Taspen dilaksanakan di ruang rapat dari pk 10-14. Karena puasa dan terlalu banyak bicara suara hampir saja hilang, tenggorokan terasa kering dan parau. Saya khawatir jangan-jangan besok tidak bisa bersuara ketika akan memberi sambutan.

Esok harinya, hari Jum’at menjelang Subuh saya bangun dan bersiap untuk menjalankan sholat Subuh di Masjid Agung Medan, masjid Al Ma’un yang terletak di depan hotel Al Islam Madani, Medan. Saya berhasil mengambil tempat di shaf pertama. Dipojok sebelah kiri. Ketika saatnya tiba marbot melantunkan Iqomat lalu sholat dimulai. Imam ternyata membaca surat yang saya tidak paham dan panjang. Sesudah selesai kemudian tidak rukuk tetapi langsung sujud, istilah saya ‘dlosor’. Saya terheran-heran . Setelah sujud lalu berdiri lagi dan meneruskan bacaannya. Setelah selesai bacaannya kemudian rukuk dan seterusnya sampai rakaat yang kedua. Setelah rukuk kedua, imam tidak membaca qunut tetapi langsung sujud dan setelah itu salam menengok ke kanan dan menengok ke kiri.

Setelah selesai shalat saya menanyakan ke imamnya: “ Tadi kenapa langsung sujud?”. Dia menyampaikan bahwa pada rakaat pertama dia membaca  surat As Sajadah dan langsung sujud tilawah. Yah…., ini baru saya alami seumur hidup saya. Maklum saya tidak pernah tinggal di pesantren. Saya lalu sms kepada BAZNAS dan Jamaah Masjid Al Muthmainnah sebagai berikut : “ Saya di Medan sholat Subuh dengan 3 sujud dan 2 Ruku”. Alhamdulillah dari Pak Didin Hafidhuddin, Ketua Umum BAZNAS merespon “ …..Bukan sujud tiga kali, tetapi imamnya  di rakaat pertama membaca  surat Hamim Sajdah. Pas baca  ayat sajdah  di sunnahkan sujud dulu. Itu namanya sujud Tilawah”. Demikian pula saya terima ‘respon’ dari kolega BAZNAS yang lain dari Prof Dr Artani Hasbi, Anggota Komisi Pengawas BAZNAS yang dosen UIN Jakarta; pak Husin Ibrahim, Ketua Pendayagunaan Dana  BAZNAS; pak Muzaffar Daud, anggota Badan Pelaksana yang mendapat tugas di Yogyakarta. Juga dari Ustadz Zulkifli Muhammad Ali dari Payakumbuh, yang juga tamatan Al Ahzar, Kairo dan dari Tripoli, Libyia. Dari Al Muthmainnah hanya Ustadz Very Azis yang memberikan ‘respon’.

Ustadz Very Azis sudah lebih dari 5 tahun memberikan pelajaran tafsir Al Qur’an setiap hari Sabtu Subuh di Masjid Al Muthmainnah, Komplek Departemen Keuangan Kembangan Selatan, Jakarta Barat. Pembelajaran tafsir Al Qur’an memang telah berjalan cukup lama karena membahas dari mulai surat Al Baqarah dan seterusnya. Membahas  1-5 ayat setiap pertemuan. Memang akan memakan waktu lama untuk menamatkannya. Pernah para jamaah seolah tidak sabar ingin segera cepat-cepat selesai. Dia lupa bahwa Rasulullah Saw memerlukan waktu 23 tahun untuk memperoleh Al Qur’an secara komplit dari Allah Swt dan mengajarkannya kepada para sahabat. Allah juga menyatakan :

“Dan Al Qur’an kami turunkan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap” (QS Al Isra: 17:106)

Ustadz Very juga tamatan dari Al Azhar Kairo yang saat ini menjadi dosen di Universitas Paramadina. Sedangkan untuk As Sunnah setiap Rabu setelah sholat Subuh dengan bimbingan ustadz Rahmat Nuzul Ramelan dengan buku Ringkasan SHAHIH AL-BUKHARI yang disusun oleh Imam Az Zabidi yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.

Sholat Jum’at saya lakukan di Masjid Agung Medan sehingga saya dapat lebih mengenal Imam Masjidnya yang ternyata bernama ustadz Khairul Hamdi yang tamatan Al Azhar, Kairo. Dia adalah penerus ayahandanya yang dulu juga Imam Masjid Agung Medan ini. Di Masjid Agung Medan sudah ditradisikan untuk melaksanakan sujud Tilawah setelah membaca surat As Sajadah setiap sholat Subuh di hari Jum’at, sehingga tidak perlu diumumkan kalau akan melakukan sujud tilawah. Dia menyatakan bahwa ini juga dilakukan di Al Azhar, Kairo dan juga di Malaysia.

Ada seorang teman penghuni komplek, Sdr Husni Tjardas  berasal dari Bengkulu menyatakan bahwa dia dulu sering mengikuti dan melakukannya ketika sholat di Masjid Bengkulu. Tetapi sangat disayangkan selama ini dia hanya menyimpan ilmunya untuk dirinya sendiri, tidak mau berbagi dengan yang lain.

Dalam buku Index  Alfabetis Hadits Bukhari Muslim yang disusun oleh Deni Hamdani Firdaus dan diterbitkan oleh penerbit Pustaka Acala, Bekasi Timur, Jakarta, cetakan I Januari 2010 di halaman 418 tertulis :

“ Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata, pernah Nabi Saw membaca surah Al Najm di Makkah, maka beliau bersujud dan bersujud pula semua yang menyertai beliau kecuali seorang lelaki tua. Lelaki tua itu mengambil segenggam pasir dan mengangkatnya dan meletakkan ke dahinya seraya berkata, “ Sudah cukup bagiku ini, “ Kemudian tidak lama setelah itu, aku lihat dia terbunuh dalam keadaan kafir”

“ Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, ketika membaca surah Shad tidaklah wajib bagi seseorang untuk bersujud, tapi aku pernah melihat nabi Saw bersujud ketika membacanya”

“ Dari Ibnu Umar ra, ia berkata, pernah nabi Saw membacakan surah yang didalamnya ada ayat Sajdah, maka beliau pun bersujud. Lalu kami pun ikut sujud sehingga ada diantara kami yang tidak mendapatkan tempat untuk sujud”.

“ Dari Zaid bin Tsabit ra, ia berkata, Aku pernah membacakan surah Al_Najm di hadapan nabi Saw, dan beliau tidak sujud”

Dari buku Terjemahan Hadits SHAHIH MUSLIM oleh Al Imam Muslim, diterjemahkan oleh Ma’mur Daud cetakan ke 5 Tahun 1997, Penerbit Klang Book Centre, Malaysia Buku I halaman 285 tertulis :

“ Dari Abu Salamah bin Abdur Rahman ra, katanya :” Abu Hurairah membacakan Surat Insyiqaq kepada mereka, lalu dia sujud Tilawah. Setelah itu dia mengabarkan kepada mereka bahwa Rasulullah Saw sujud Tilawah ketika membaca surat itu”

“ Dari Abu Hurairah ra katanya :” Kami sujud bersama Nabi Saw ketika membaca surat Insyiqaq dan surat Al Alaq”

Jum’at sore acara dengan 1.000 Yatim Piatu diadakan di Asrama Haji Medan. Ruangan memang menjadi riuh rendah. Maklum anak-anak. Setelah waktunya acara dibuka oleh MC menjelang saat berbuka. Setelah berbuka puasa bersama dengan makanan ringan, kemudian sholat Maghrib di masjid. Tempat wudlunya ada yang dengan tempat duduk seperti yang telah juga dibuat di Masjid Al Muthmainnah tetapi di Masjid Al Muthmainnah terlalu sempit sehingga “underutilize”. Sedangkan yang di Medan terlalu longgar. Memang untuk yang di Al Muthmainnah harus segera diperbaiki agar dapat dimanfaatkan secara optimal. Selanjutnya sesudah makan acara dilanjutkan dengan sambutan pembukaan dari ketua Panitia BAZDA Medan dan dari BAZNAS yang saya wakili selaku Ketua Komisi Pengawas BAZNAS. Oleh karena baru 2 hari memperingati HUT Kemerdekaan maka setelah memulai dengan salam pembuka saya meminta semua yang hadir untuk berdiri dan memekikkan “MERDEKA” 3 kali. Yah…. pekik kemerdekaan bergema di ruangan dengan gegap gempita.

Selanjutnya dilakukan pembagian santunan dari BAZNAS yang diterima oleh perwakilan anak-anak yatim piatu. Dilanjutkan dengan tausyiah yang disampaikan oleh seorang Bapak dosen IAIN, yang ketika melihat jumlah anak-anak yang hadir beliau berkomentar: “Ini hal sangat sulit bagi saya, bertausyiah dihadapan seribu anak-anak. Ini belum pernah saya lakukan. Setiap hari saya hanya menghadapi jumlah mahasiswa paling banyak satu kelas”. Maka beliau mempersingkat tausyiahnya karena memang sulit mengendalikan suara anak-anak dan meminta anak-anak diam untuk memperhatikan dan mencermati apa yang disampaikan penceramah.

Sekembali dari Medan persoalan sujud Tilawah menjadi bahan diskusi di Masjid Al Muthmainnah Komplek Departemen Keuangan Kembangan Selatan Jakarta Barat tempat penulis tinggal. Sudah lebih dari 3 bulan masjid  mendapatkan Imam rawatib yaitu ustadz Sam’anih yang tamatan  PTIQ. Saya menceritakan apa yang terjadi di Medan. Dia menyatakan bahwa di pesantren juga melakukannya. Dia akan berusaha untuk menghafalnya.

Pada hari Jum’at Subuh tanggal 16 September 2011 saya mengajak anak saya, Tio untuk sholat di Masjid Negara, Masjid Istiqlal untuk mencari tahu apakah juga melaksanakan sujud tilawah. Berangkat dari rumah pk 4.10 dan tiba di Masjid Istiqlal pk 4.30. Masjid Istiqlal sejak dibawah kepemimpinan Bapak H Mubarok dan Sekjennya Bapak H Subandi memang tertata rapih dan terjaga kebersihannya. Tidak ada lagi pedagang yang berjualan seperti dahulu sehingga menyebabkan masjid menjadi kotor dan terjadinya hiruk pikuk penjual dan pembeli. Setelah memarkir kendaraan di depan Masjid agak kekanan, kemudian masuk ke masjid langsung ketempat wudlu untuk berwudlu terlebih dahulu. Selesai wudlu  meniti tangga naik ke dalam masjid, kemudian mengerjakan sholat Sunnah Wudlu dan diteruskan sunah Tahiyatul Masjid dan dilanjutkan dengan shalat fajar dan Qobliyatul Subhi.

Pada saat itu diumumkan bahwa nanti akan ada sujud Tilawah. Benar juga. Setelah imam di rakaat pertama membaca surat As Sajadah kemudian langsung sujud dan kembali berdiri melanjutkan bacaannya. Setelah selesai bacaannya melakukan ruku seperti biasa. Tetapi di rokaat kedua setelah ruku berdiri tegak dan membaca Qunut. Kebiasaan di masjid-masjid  besar termasuk di Istiqlal setelah sholat ada dzikir bersama dan ada pelajaran tafsir. Juga di Medan. Saya tidak ikut pengajian, tetapi terus pulang.

Persoalan Qunut selalu menjadi persoalan yang sering dinyatakan bahwa kalau NU itu ada Qunutnya dan kalau Muhammadiyah tanpa Qunut. Bagaimana sesungguhnya soal Qunut itu? Saya mencoba cari dalam buku Index Alfabetis  Hadis Bukhari Muslim, disusun oleh Deni Hamdani Firdaus dan diterbitkan oleh penerbit Pustaka Acala, Bekasi Timur, Jakarta, cetakan I Januari 2010 di halaman 401 :

“ Dari Barra’ bin ‘ Azib ra, Sesungguhnya Rasulullah Saw membaca Qunut ketika shalat Subuh dan Maghrib.”

“ Dari Anas bin Malik ra ia berkata, “ Biasanya Qunut dilakukan pada shalat Maghrib dan Subuh”.

Dari Ayyub, dari Muhammad ra, ia berkata Anas ditanya ‘apakah Nabi Saw melakukan Qunut pada shalat Subuh? Anas menjawab, “ya”. Lalu Anas ditanya kembali, “Apakah Qunutnya sebelum Ruku?” Anas menjawab, “ Qunutnya sesudah ruku berturut-turut selama sebulan”.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “ Ketika shalat Subuh, setelah mengangkat kepalanya dari ruku beliau mengucapkan “ Sami’allahu liman hamidah Rabbana walakal hamdu”. Lalu beliau tetap berdiri seraya berdoa, “ Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid, Salamah bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang mukmin yang lemah”.

Ya Allah, berlaku keraslah terhadap suku Mudhar, timpakanlah kepada mereka paceklik selama beberapa tahun sebagaimana menimpa kaum Yusuf. Ya Allah kutuklah Liyan, Ri’lan, Dzakwan dan Ushayyah karena mereka telah berbuat durhaka terhadapMu dan Rasul-Mu”. Kemudian kami mendengar bahwa beliau meninggalkan Qunut ini setelah turun ayat “ Laisa laka minal amri syaiun au yatuba ‘alaihim au yu’adz-dzibahum fainnahum dzalimun” atau “Bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengadzabnya karena sesungguhnya mereka orang-orang yang dzalim. (Ali Imran:3:128)”

“ Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,” Demi Allah aku akan memperlihatkan shalat yang mendekati dengan shalat yang dilakukan Rasulullah Saw.” Maka Abu Hurairah melakukan Qunut ketika shalat Dzuhur dan Isya di akhir rakaatnya lalu ketika sholat Subuh. Ia berdoa untuk orang-orang mukmin dan melaknat orang-orang kafir”

Kelima Hadits tersebut ada juga dalam Terjemah Hadits Shahih Muslim buku ke 2, oleh Al Imam Muslim, diterjemahkan oleh Ma’mur Daud cetakan ke 5 Tahun 1997, Penerbit Klang Book Centre, Malaysia halaman 16-18.

Dari penjelasan hadits-hadits diatas maka sholat dengan Qunut dilakukan Rasulullah Saw tidak hanya dalam sholat Subuh saja dan Rasulullah Saw melakukannya hanya 1 bulan setelah itu tidak melakukannya lagi setelah turunnya Surat Ali Imran ayat 128. Jadikah masih mau Qunut?

Jangan sampai kita mengatakan karena Moyang kami, Bapak kami dan Ustadz kami melakukan itu maka kami mengikutinya. Padahal kita dituntut Allah Swt untuk melakukan penelaahan dan pengkajian karena Allah Swt mengingatkannya sebagaimana dinyatakan  dalam surat  Al Baqarah dan Luqman  :

” Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab : ‘Tidak. Kami hanya akan mengikuti apa yang telah kami dapati dan pelajari dari nenek moyang kami” (QS Al Baqarah:2:170)

“ Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka berkata : ‘Bahkan kami mengikuti apa-apa yang kami dapati dari Bapak-bapak kami”(QS Luqman:31:21)

Dalam Buletin Dakwah at Tajdid Jum’at, 11 Juni 2010 M/ 28 Djumadits Tsani 1431 H Vol. 44 Tahun VII di halaman 1 ditulis :

Rasulullah SAW pernah melaksanakan doa qunut selama 1 bulan penuh, setelah terjadi peristiwa pembantaian orang-orang kafir terhadap umat Islam (para sahabatnya) penghafal (Huffazd) Al Qur’an. Doa Qunut tersebut dilakukan oleh beliau pada setiap shalat fardlu (Maghrib, Isya, Subuh, Dzuhur, Asar) yang isi kandungan doanya permohonan keselamatan untuk orang-orang mu’min dan mengutuk orang-orang kafir yang melakukan pembantaian. (HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Al  Bukhari dari Anas bin Malik serta Ahmad dan Abu Dawud dan Ibnu Abbas ra)

Salah seorang penghuni komplek, Bapak Lukito yang Captain kapal Pertamina, menantu almarhum Bapak Wibowo Wirosudiro, mantan bendahara Masjid Al Muthmainnah mengirim sms: “Masjid Istiqlal pakai sujud Tilawah dengan Qunut. Masjid Agung Medan sujud Tilawah tanpa Qunut. Qunut dan atau tanpa Qunut dalilnya  tegas kami setuju, yang nggak setuju adalah tanpa Qunut namun imam  memberi kesempatan atau nambahin jedah waktu  maksudnya  makmumnya biar berdoa Qunut sendiri-sendiri. Jadi imam buat rancu jamaah. Nambahin waktu tersebut yang bid’ah atau jatuhnya sholatnya tidak sempurna? Menjadi pertanyaan apakah setiap berdoa  harus dengan menadahkan tangan? Dalam hadits diatas tidak dijelaskan. Ada hadits lain Rasulullah jika berdoa mengangkat tangan tetapi ada juga tidak mengangkat tangan sebagaimana tercantum dalam Index  Alfabetis  Hadis Bukhari Muslim halaman  141. Tetapi tidak ada penjelasan bahwa kalau membaca doa Qunut dengan menadahkan tangan.

Rupanya pagi itu di Masjid Al Muthmainnah, banyak yang mencari saya. Hari Sabtu paginya Pak Drs Harry Harsojono Notodipuro MBA, yang alumni UI dan University of Oregon Amerika Serikat yang menjadi Ketua RT pertama di komplek Departemen Keuangan ini dan ketika itu saya menjadi Sekretarisnya,  bertanya :” Waktu kemarin sholat subuh kok tidak ada? Karena kita sudah memulai dengan bersujud tilawah”. Ternyata di hari itu untuk pertama kalinya sholat Subuh di hari Jum’at, tanggal 16 September 2011 di masjid Al Muthmainnah sujud Tilawah mulai dipraktekkan. Memang sebelumnya ustadz Sam’anih mengatakan kepada saya bahwa dia telah hafal surat As Sajadah.

Yah….. satu lagi kemajuan untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam untuk menggapai Islam yang kaffah.

Hari Jumat tanggal 23 September 2011 saya sholat Subuh di Masjid Al Muthmainnah setelah melaksanakan sholat Sunnah menunggu iqomat. Ketika semua jamaah telah berdiri,  imam rawatib, Sam’anih menyampaikan bahwa nanti akan melaksanakan sujud Tilawah. Ini yang kedua kalinya masjid Al Muthmainnah melaksanakan sholat Subuh dengan sujud Tilawah. Selesai sholat Ketua Masjid Pak Abdussalam meminta ustadz Sam’anih berkultum menjelaskan mengapa melakukan sujud Tilawah.

Hari Senin, 26 September 2011 kami menyelenggarakan pertemuan di pesantren Yakamus di Arthaloka lt 12 untuk persiapan mengadakan acara Halal bihalal  dan Milad I KJI (Komunitas Jamsosnas Indonesia) hadir Pak Djoko Daljono, Ketua II KJI; Pak Achmad Mochtarom, Sekjen KJI; Pak Kuswadi Kusman; pak Budi Irawan  dan dari Gibon Books pak Budi  Nugroho dan Pak Riwanto. Pak Kuswadi Kusman yang pengurus masjid Berlan dan anggota Yakamus ketika saya sampaikan pengalaman yang berhubungan dengan sujud Tilawah, menyatakan bahwa terkait dengan sujud Tilawah maka perlu diperhatikan surat 17 yaitu Surat Al Israa ayat 107-109 yang bunyinya :

“ Katakanlah,’ apakah kamu percaya kepada Al Qur’an atau tidak percaya sama saja bagi Allah.’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al Qur’an dibacakan kepadanya mereka menyungkurkan wajahnya dan bersujud (107)”, “dan mereka berkata:” Mahasuci Tuhan kami, sungguh, janji Tuhan kami benar-benar dipenuhi (108)”. “Dan mereka tundukkan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyuk(109)”.

Jadi ketika melakukan sujud Tilawah maka sesuai tuntunan Allah Swt seyogyanya membaca : “ Subhaana rabbinaa inkaana wa’du, rabbinaa la maf’uulaa artinyaMahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami, benar-benar dipenuhi”.

Allah Swt dalam ayat 110 nya menjelaskan bagaimana sholat yang benar harus dilakukan  : ”…. janganlah keraskan bacaan sholatmu dan jangan pula memelankannya dan carilah jalan antara demikian itu diantara kedua cara itu”. Banyak dari jamaah yang makmum ketika imam membaca surah masih sibuk membaca Al Fatihah bahkan berpacu dengan suara imamnya, padahal diperintahkan dalam shalat untuk mengikuti imam.

Itulah pengajaran Allah Swt kepada manusia bagaimana menjalankan sholat yang benar. Dalam As Sunnah juga dijelaskan mengenai keharusan mengikuti imam sebagaimana tercantum dalam Hadits berikut ini :

“ Dalam Ringkasan Shahih Bukhari terbitan Mizan halamn 173 – 175 Diriwayatkan dari Abu Hurairah : Rasulullah Saw pernah bersabda, “ Apabila mereka(imam) memimpin shalat dengan benar maka imam dan makmum akan menerima pahala tetapi jika imam membuat kesalahan dalam memimpin shalat maka makmum tetap menerima pahala shalat dan dosa dari kesalahan  itu menjadi tanggungan imam”.

“ Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Nabi Muhammad Saw  pernah bersabda:” Tidak takutkah mereka yang dibangkitkan dari sujudnya mendahului imam kelak kepalanya diubah Allah menjadi kepala seekor keledai? Atau rupanya diubah Allah menjadi rupa keledai?”

Ternyata Allah SWT memberikan pengajaran terperinci kepada manusia sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an dan juga dalam As Sunnah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw tetapi tidak semua umat Islam mempelajari dan memahamkannya. Salah satunya adalah pengajaran mengenai sujud Tilawah.

Al Qur’an memang bukan sebuah kitab biasa. Dia sangat luar biasa karena berisi firman Allah Swt. Untuk memahaminya mesti kita kembalikan kepada pembuatnya yaitu Allah Swt dengan meminta petunjuk untuk dapat memahaminya apa yang tersurat dan tersirat. Dalam memahami Al Qur’an penjelasan satu ayat tidak selalu dijelaskan berurutan dalam ayat yang bersangkutan tetapi seringkali ditemukan dalam ayat yang lain sebelumnya atau sesudahnya.

Mahasuci Allah. Pemahaman mengenai sujud Tilawah, alhamdulillah dapat dipahami secara setahap demi setahap dan ini membuktikan kebenaran pernyataan Allah dalam  surat Insyiqaq.

“ Sesungguhnya kamu akan memperoleh pemahaman setahap demi setahap “ (QS Al Insyiqaaq:84:19)

Apakah di masjid saudara sudah melaksanakan dan mentradisikan sujud Tilawah setiap sholat subuh di hari Jum’at?

Jakarta, 27 September 2011.

Penulis adalah Achmad Subianto:
Ketua Gerakan Memakmurkan Masjid, Ketua Komisi Pengawas BAZNAS 2005-2011, Penasehat ISEI Cabang Jakarta 2001-2011, Ketua Umum Fokkus, Babinrohis Pusat, Mantan bendahara DPN KORPRI 2004-2009, Mantan Ketua IV PWRI 2003-2009, Ketua Umum Federasi Perasuransian Indonesia 2003, Ketua Umum Asosiasi Jaminan Sosial dan Jaminan Sosial 2000-2008, Direktur Utama PT Taspen 2000-2008

3 Respon untuk “Pertama Kali Melakukan Sujud Tilawah”

  1. chairan alwan says:

    Ass.ww. Alhamdilillah tulisan bpk yg begitu luas memberikan pencerahan bagi saya. Di masjid As Sa`adah Belawan Medan telah melaksanakan sujud Tilawah setiap subuh jumat.

  2. Chairan Alwan says:

    Setelah membaca tulisan Bpk.Achmad Subianto dgn judul “Pertama Kali Melakukan Sujud Tilawah” yg demikian luas uraiannya, Alhamdulillah telah memperkaya wawasan dan pencerahan khususnya kpd pribadi saya sendiri. Saya berdoa semoga bpk tetap sehat walafiat shg dapat menerbitkan tulisan/artikel berikutnya yang sangat bermanfaat bagi umat.
    Dapat saya sampaikan di Masjid sekitar tempat tinggal saya yakni Masjid As Sa’adah Belawan Bahagia Medan Sumut, secara rutin setiap Subuh Jumat dilaksanakan sujud Tilawah dan sebelum sholat dimulai, Imam tetap mengingatkan makmum bahwa sujud Tilawah akan dilaksanakan. Wass.

  3. Alhamdulillah pak Alwan dapat menyempatkan memberi tanggapan terhadap makalah “PERTAMA KALI MELAKUKAN SUJUD TILAWAH”. Saya akan menjadikan tulisan ini bagian dari buku yang sedang dalam persiapan yaitu ‘ SHALATLAH SEBAGAIMANA AKU SHALAT”.
    Terima kasih atas doanya dan semoga pak Alwan dan keluarga demikian juga tetap sehat dan berkarya meskipun sudah pensiun dari TASPEN. Salam-as

Beri komentar

Anda dapat menggunakan tag-tag XHTML berikut:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>